Diapusi? Orang Jogja Biasa Saja...

Oleh:  David Efendi

Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97

Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97
Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97
Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97
Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97

Share it →

0 komentar:

Post a Comment