7 "Dosa" Toko Modern Berjejaring

                                                           Oleh ; David Efendi, MA

        "Jogja ilang dalane, Jembar swalayane. Jogja ilang pasar rakyate, banjir pasar modern. Wong cilik tambah susah, pengusaha Kaya makin Gila." Sangat benar tentu saja bahwa"..Indonesia itu kan negera yang bebas sebebas-bebasnya, tidak ada yang ngontrol. Sebenarnya kalau pemerintah daerahnya tahu itukan sudah ada peruntukan ruang, tata ruang. seluruh Indonesia, propinsi, Kabupaten, Kota, itu sudah ada tata ruangnya. ada tata peruntukan ruang. dikontrol dari situ saja sudah selesai. Tetapi siapa yang bisa ngontrol, negara Ngayogyokarto Hadiningrat saja gak bisa ngontrol, hotel seenaknya saja dibangun, (Red:juga toko modern berjejaring). Rumah-rumah berpagar di YOgyakarta sudah 52 titik. Ini sudah darurat ruang. Kontrol memang tidak jalan. " (Prof Sunyoto Usman, Sosiolog UGM dimuat di SM edisi 16-19 Februari 2016) Baik Kajian akademik maupun Kajian orang orang Biasa telah dapat disimpulkan bahwa Dominasi pasar modern telah berhasil meminggirkan ekonomi rakyat serta menggiring pada situasi kemarahan rakyat, pertanda keresahan sosial dan potensi persoalan hadirnya SWALAYAN MODERN BERJEJARING khususnya yang menimpa DI Yogyakarta Sudah di liar Maraknya keresahan perihal swalayan tak berizin dan jarak yang terlalu dekat dgn pasar tradisional serta beroperasinya swalayan tanpa nama di kota Jogja Dan kedok swalayan lokal yaitu nama nama swalayan yang berbau tipuan untuk mengelabui pembeli atau regulasi pemerintah. Mengingat begitu banyak gejolak sosial ekonomi dan kebudayaan dari brutalnya bisnis swalayan berjejaring di republik ini tidak terkecuali di DIY maka upaya pengaduan ini adalah bagian dari dakwah nahi munkar di ruang publik. Jika diikuti di media pecan terakehir ini, penolakan atas dominasi bisnis waralaba/swalayan mulai tak terhindarkan. Bisa jadi, lemahnya penegakan hukum akan direspon dengan bangkitnya gelombang perlawanan di daerah akibat dominasi pasar yang merusak pasar lokal di daerah dan berpotensi meminggirkan potensi ekonomi daerah secara berkepanjangan. Setidaknya ada tujuh dosa Besar yang dilakukan secara sengaja oleh pelaku pasar modern berjejaring nasional Dan internasional. 1. Karakter monopoli Dan Dominasi. Setiap Dominasi adalah penindasan sehingga Dominasi Selalu membuat jutaan orang menderita. Liarnya pebisnis toko modern menggerus ekonomi rakyat. Dominasi pasar oleh swalayan yang merugikan pedagang kecil dan lokal selama ini sudah sangat parah. Kerakusan pebisnis swalayan ini mengakali regulasi dengan menghalalkan segala cara mulai melanggar jarak dgn pasar traditional, memalsukan nama. Sebagai contoh: banyaknya swalayan tanpa nama di Kota Yogyakarta, juga yg kasus di Pasar Cebongan yang kemarin sudah disegel tapi sekarang buka dengan nama baru “bhineka mitra.”; Dalam praktiknya, gerai yang illegal tetap beroperasi dengan main buka tutup jika ada hari penertiban. Praktik ini sudah dapat dianggap sebagai kemungkaran dalam tata niaga yaitu dengan menghalalkan segala cara karenanya harus dihentikan. 2. Vandal terhadap regulasi. Penipuan Dan Kelicikan sangat akrab dengab usaha bisnis toko modern INI. Pengusaha licik Dan Pemerintahan yang bodoh. Itu kesimpulan Beberapa pernyataan dari forum sabda rakyat Jogja. Walaupun berbagai perda perlindungan pasar tradisional baik di pemda DI Yogyakarta, Kabupate/Kota, serta regulasi lainnya namun dirasakan adanya kekosongan penegakan regulasi terkait perlindungan pasar tradisional sehingga liberalisasi pasar waralaba di DI Yogyakarta telah menyuburkan praktik eksploitatif di daerah. Di dalam perda di DIY dikatakan bahwa pasar modern membina pasar tradisional adalah harapan kosong karena antara pasar modern dan tradisional adalah hubungan yang bersifat kontradiktif. Karenanya, perlunya evaluasi atas kebijakan atau regulasi mengenai pasar modern yang telah berlaku selama ini untuki ditekankan pada pembelaan atas eksistensi pasar rakyat. 3. Penyuapan Dan Korupsi. Ada istilah "Kasih 20 jt Langsung berdiri toko modern." Itulah kekacauan moral dalam praktik koruptif penyuapan dalam pendirian gerai swalayan modern-berjejaring telah merusak moral masyarakat dan mengembangkan mentalitas menerabas (permisif). Praktik bisnis tanpa etika dan kearifan lokal tidak boleh dibiarkan dan menolaknya berarti melaksanakan dakwah amr ma’ruf nahi munkar di ruang publik. Karenanya, kami menghimbau kepada semua pihak terkait untuk berusaha sekeras-kerasnya memenuhi rasa keadilan dan ketertiban sosial yang akhir-akhir ini gampang tersulut akibat gejolak ekonomi dan sosial masyarakat. Dalam kesempatan ini, kami juga mengajak siapa saja untuk tak segan-segan melaporkan berbagai pelanggaran dalam kegiatan bisnis di Yogyakarta yang berkebudayaan dan beretika. rakyat semakin cerdas dan lebih berdaulat lagi di hari-hari penuh dengan persoalan ini. 4. TMB itu Bisnis tanpa etika Secara khusus penegakan etika bisnis juga harus dilakukan. Ini menyangkut tiga ranah "bottom line", yakni ekonomi, lingkungan dan sosial, yang secara sederhana menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggungjawab pada ketiga aspek tersebut. Aspek ekonomi sudah disorot dalam butir-butir di atas. Aspek-aspek lainnya juga sudah harus diindahkan segera dengan, antara lain, sebanyak mungkin memanfaatkan bahan yang dapat didaur ulang dalam kemasan atau wadah dari toko. 5. Maling trotoar jalan Saksikan betapa banyak TMB menghancurkan Bahu jalan seenaknya, untuk Parkiran, untuk kelancaran kendaraan barang masuk. Negara INI kayak milik kakeknya sehingga sangat berani Kurang ajar. Hotel juga Sama Sama maling pedestrian side. 6. Menunda Pembayaran memberikan hak pegawai dan suplier secepat mungkin, sehingga memenuhi kaidah "diberikan haknya sebelum keringatnya kering". Ini juga merupakan Bentuk perampokan Besar dengan capital flight~menunda pembayaran artinya Wong cilik memodali kapitalis raksasa. 7. Rampok berkedok ramah lingkungan. Atas nama regulasi dari pusat seeanknya sendiri membebani pembeli dengan harus membayar kresek 200 rupiah per kresek. Logika kacau berdalih ramah lingkungan. Kapitalis Selalu lebih licik dari pada penjaga Keamanan....Dan Kita Tak mungkin berdamai dengan Rampok yang menguras isi rumah Kita. Ajakan ramah lingkungan ditipu pasar modern. Itu judul yang Bagus. Bagaimana kita tegakkan akal sehat adalah dengan jalan bahwa Kita tidak akan pernah berdamai dengan rampok yang menghabisi isi Rumah kita. Rampok itu pasar modern. Hari ini, kita saksikan mereka keruk uang rakyat dengan menjual kresek atas nama ramah lingkungan Dan aturan pusat. Perizinan mereka tipu, warga disuap, regulasi divandal dimana mana untuk mendirkan toko kok sekarang menegakkan regulasi ramah lingkungan dengan jualan plastik. Coba kita hitung sja plastiik segitu 200 rupiah. Andai tiap mart ada 1000 org belanja tiap hr. Dan ber asumsi di slman sda 300 mart2. Maka belanja plastik = 200 rupiah x 1000 org. Jadi 200 000x30 hr= 6 jt Dikalikan 300 mart2= 1,8 m per bulan. Setahun=21,6 milyar utk belanja plastoik. Utk tiap kabup dgn asumsi 300 tmb. Hem beaya plastik sungguh besar dibebankan ke rakyat. Dan yg dpt untung toko2 itu. Harusnya sbg bentuk pelayanan toko2 itu yg harus nanggung. Malangnya desaku. Duitnya dihisap. Masih dibebani plastik Dan banjir plastik tetaplah ancaman. Itulah, niat ramah lingkungan malah jadi Bahan mengeruk uang. Pemerintah bodoh, poebisnis licik. Ya ini! Kemarahan kita harus disatukan. Pengusaha Dan pemerintah, waspadalah jika rakyat marah. Kemarahan itu terlihat dari status status di social media di Di Yogyakarta, beberapa Contoh misalnya: 2016 DIY Bebas Toko Modern Berjejaring. Ini Istimewa untuk Rakyat TOKO MODERN BERJEJARING JANGAN HISAP DUITKU. PEJABAT KU JANGAN MENINDAS RAKYATMU. KADESKU JANGAN GADAIKAN DESAKU. DENGAN IJINMU ke TOKO2 MODERN ITU. BUPATIKU IJINMU UNTUK TOKO MODERN SUNGGUH MEMBUAT MISKIN RAKYAT SLEMAN Pak Camat Yang Kucinta Jangan Kau Gadaikan Cintaku Dengan Ijin Toko Berjejaring Di Desaku# SRJ (sabda rakyat jogja) Semoga Tuhan melindungi rakyat DI Yogyakarta.




Selengkapnya http://www.kompasiana.com/masdavid/7-dosa-toko-modern-berjejaring_56e764aef49673cc0acab319
 

Diapusi? Orang Jogja Biasa Saja...

Oleh:  David Efendi

Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97

Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97
Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97
Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97
Ndilalah Jogja INI bukan bagian dari Indonesia yang begitu mudahnya tergerak rasa iba nya ketika sang presidennya mengatakan difitnah. Jebulnya, wong jogjakarta tidak gumunan Kagetan menyaksikan gempa berita sang "Sultan diapusi". Kalau warga mayoritas tak kaget atau shock, berarti APA yang terjadi hanyalah dramaturgi. Ya, sejenis aksi teatrikal yang tak terjadi di jagat kenyataan. Persis seperti Butet yang ada dalam peran pembantu Sentilan sentilun, yang berkebalikan dengan keadaan sesungguhnya yang dekat dengan korporasi jahat. Respon Biasa Biasa yang dimiliki orang Jogja bisa jadi membenarkan bahwa pertama, orang Jogja Sudah sangat rasional. Kedua, karena ranah kraton adalah Sudah menjadi ranah politik sehingga tak perlu dibela karena masyarakat berharap kraton yang dipimpin Sultan lebih mulia Jika fokus sebagai penjaga nilai kebudayaan. Terakhir, bisa jadi INI karena apatisme tingkat dewa oleh warga Jogja. Kalaupun benar Sri Sultan Hamengkubuwono X diapusi alias ditipu Maka dalam drama INI telah memunculkan Tagar aneh #walitipusultan #Bupatitipusultan #sultandiapusi #rakyattipusultan atau Malah lebih parah Jika dikiaskan #sultantipurakyat. Di alam politik siapa pun mafhum bahwa maling sangatlah gampang teriak maling. Berbeda dengan ranah budaya, Hal ITU sangat Tak mungkin. Kita ulangi lagi, kalaupun sultam Sukses ditipu Sebenarnya ada Beberapa penjelasan yang bisa dipahami warga, Antara lain: 1. Selama INI sultan sibuk mengurus Tahta untuk Anak. 2. Selama INI sultan sering menyalahkan Bupati Dan Walikota dalam proyek pembangunan tapi sebaliknya keluarganya melibatkan diri sebagai bagian dari masalah pembangunan 3'. Sultan terlalu konservatif dengan pembisiknya, lupa bertanya Kepada rakyatnya. 4. Sultan merasa Tak masalah ketika jauh dari Komunitas Islam yang menyayangi jogjakarta tetapi membiarkan Opini berkembang bahwa sultan Sudah hiLang pamornya karena menghapus gelar khalifatullah. Ini bisa menyakiti nurani ummat Islam. 5. Kurang peka, bahwa ada banyak jenis perlawanan terselubung baik di dalam istanah maupun oleh orang orang Biasa. Kalender kraton semakin jarang di Warung Warung tradisional menunjukkan Wong cilik telah menarik dukungan terhadap eksistensi pemangku adat INI.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masdavid/diapusi-orang-jogja-biasa-saja_56eb5e52799773853b53aa97

Merajut Tenun Kebangsaan



                       

Ini Soal Tenun Kebangsaan

              Oleh :   Anies Rasyid Baswedan

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!
Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas di mana-mana.

Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lainnya. Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan!

Tenun kebangsaan itu dirobek, diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal. Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan? Tidak! Republik ini tak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang, bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya. Mereka tidak sekadar melanggar hukum, tetapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini.

Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan. Tenun kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bineka. Kebinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah! Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan. Perajutan tenun ini pun belum selesai. Ada proses terus-menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar-unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya.

Warga Negara, Penganut Agama


Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan ”warga negara” dan ”penganut sebuah agama”. Perbedaan aliran atau keyakinan tak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan, bahkan ribuan tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus dan belum ada tanda akan selesai minggu depan. Jadi, di satu sisi, negara tak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tetapi semua warga negara republik sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan.

Negara memang tak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Namun, negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi, dialog antar-pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apa pun boleh, begitu berubah jadi kekerasan, maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya. Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antarpenganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antarwarga senegara. Dalam menegakkan hukum, negara harus melihat semua pihak semata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan. Aparat keamanan harus hadir melindungi ”warga-negara” bukan melindungi ”pengikut” keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, aparat hadir untuk menangkap ”warga-negara” pelaku kekerasan, bukan menangkap ”pengikut” keyakinan yang melakukan kekerasan.

Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Di sini pendidikan berperan penting. Namun, itu semua tak cukup dan takkan pernah cukup. Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau ”bertarung” menghadapi para perobek itu. Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah bahwa bangsa ini gagah memesona saat mendirikan negara bineka tetapi lunglai saat mempertahankan negara bineka.

Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas. Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek hampir pasti tak bisa memulihkannya. Tenun yang robek selalu ada bekas, selalu ada cacat. Ada seribu satu pelanggaran hukum di Republik ini, tetapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk menyejahterakan bangsa semua orang boleh ”turun-tangan”, tetapi menegakkan hukum hanya aparat yang boleh ”turun-tangan”.

Penegak hukum dibekali senjata tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, melainkan untuk melindungi warga negara saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang ”bertarung” melawan para perobek. Saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat tetapi tak ada kebebasan melakukan kekerasan. Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplet. Jadi, begitu ada warga negara yang pilih melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, sikap negara hanya satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya yang dihukum.

Setiap gelintir orang yang terlibat dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan! Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar, memilih kekerasan sama dengan memilih diganjar dengan hukuman menjerakan. Ada kepastian konsekuensi. Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan negara yang bineka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebinekaan itu secara tanpa syarat. Biarkan kita semua—dan kelak anak cucu kita—bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.